Artikata maternal adalah – Belakangan ini penggunaaan kata-kata dalam ucapan dan keterangan makin luas dan banyak menggunakan kata-kata yang jarang digunakan. Sehingga membuat kita kadang tidak tau maksud dari kata-kata tersebut. Seperti penggunaan kata maternal. Penggunaan kata-kata tersebut bisa saja Anda lihat di dunia nyata maupun di dunia
Maternal Disaster is a gripping and unconventional clothing brand based in Bandung since 2003. Represents not only a more refined and forward-thinking brand, we reflect our each issues like a musical albums and every articles is like a song we write. Driven by the dream-quest of demon force that bore black mass hysteria, a carnal beast, living in a cosmos that is indifferent to our existence. Maternal Disaster is dangerous flame of brand that seemed lost for many years and that now once again has been set loose upon everyday society & to decipher the world objectively. Four young devils were brought together by our passion for music. Our first love has always been and will always be music, we try to give back to our roots through the products and opportunities we provide through the company. We remains extremely involved in the production and direction of Maternal Disaster, maintaining the respect over communities we continue to support our friends, which helps us fuel and inspire our original vision. Our goal for Maternal Disaster is to evoke emotions then create topics of discussion through our designs and boldly stated our idea at the hand of youth culture.PerpustakaanUGM, i-lib (2004) Faktor risiko kematian neonatus di Instalasi Maternal Perinatal RS Dr. Sardjito, Yogyakarta. Jurnal i-lib UGM. Perpustakaan UGM, i-lib (2004) Faktor-Faktor Lingkungan Abiotik Dan Keanekaragaman. Jurnal i-lib UGM. Perpustakaan UGM, i-lib (2004) Faktor-Faktor Risiko Kejadian Diare Berdarah Pada Balita Di Kabupaten
BANDUNG - Berawal dari iseng dan ikut-ikutan, siapa menyangka Vidi Nurhadi berhasil membesarkan brand pakaian dan aksesoris Maternal Disaster. Sekitar 2003, karena kecintaannya terhadap hobi musik keras, Vidi seringkali nongkrong di distro untuk berburu merchandise band, seperti CD, kaset, kaos, cerita, terbesit dalam pikiran Vidi untuk membuat desain dan menyablonnya sendiri, karena dia merasa kurang puas dengan desain-desain yang ada pada saat itu. Kebetulan juga, teman-teman nongkrongnya di distro banyak yang belajar menyablon untuk membuat stiker dan sejenisnya."Jadi karena kita merasa bosan saja sih, membikin produk itu-itu saja. Akhirnya mencoba bikin ini, coba bikin itu, dan ternyata responsnya juga bagus, ya sudah terusin saja. Sampai kita bikin sarung tinju, permen juga ada, dan banyak lainnya," kata Vidi jelang gelaran Magnumotion Tour Slank 2019 di Bandung, belum lama nama Maternal Disaster muncul juga berkat keisengan salah satu teman Vidi. Terasa terdengar keren dan unik, Maternal pun akhirnya digunakannya sebagai nama brand. "Pada waktu itu juga kita enggak tahu artinya apa. Bikinlah kita dari situ, nah awal mulanya ya dari situ," desain awal, Vidi mengungkapkan bahwa teman-teman yang nongkrong di distro itu memiliki kegemaran yang sama, yakni suka musik seperti musik punk , metal dan juga film-film horor . "Nah, kebentuknya dari situ, karena kesukaan sama itu, jadi kita buat desain juga yang terpengaruh dari itu," ucapnya."Horornya bukan yang.... enggak gamblang gitu, misalnya kita mau image horornya bukan kayak pocong. Misalnya kayak pohon ada gagak, itu sudah horor. Jadi ngambil estetika-estetikanya saja. Misalnya gambar peti mati, jadi enggak langsung horor pocong atau tuyul, itu enggak, ntar jadinya malah lucu," papar juga menegaskan bahwa pada mulanya dirinya tidak kepikiran sama sekali untuk berbisnis, terlebih lagi dirinya bukan dari keluarga pebisnis. "Niat awalnya enggak berbisnis, tadi kan saya bilang cuma ikut-ikutan saja. Kita suka, kita bikin, jadi enggak ada niat jualan sebenarnya," tandasnya."Sebelumnya ya gitu saja, jual ke teman dulu, kalau ada yang pakai produk Maternal, pasti saya tahulah. Kalau ada yang naik motor pakai produk Maternal, pasti tahulah kalau itu pasti teman," katanya setelah 10 tahun berjalan, pikiran untuk berbisnis mulai timbul, karena Vidi mendapatkan pinjaman modal dengan jaminan rumah kedua orang tuanya. Hal ini tentu bukanlah sesuatu yang mudah baginya. Pasalnya, dia harus bisa meyakinkan kedua orangtuanya, terlebih lagi dirinya gagal untuk menyelesaikan kuliahnya dan bisnis yang dilakoninya juga masih kurang jelas."Mereka kedua orangtua enggak kebayang lah, karena orang tua saya juga bukan pebisnis, jadi mereka khawatir. Untungnya pada akhirnya mereka percaya jadi kayak, 'Ya udah sok lah', dipinjemi sertifikat... Sertifikat rumah orang tua saya buat jaminan," ujar Vidi, yang juga sempat bekerja di sebuah perusahaan di Bandung selama lima kepercayaan dari orang tuanya ditambah dengan sedikit bekal ilmu ketika masih di dunia kerja, Vidi mencoba menjalankan usahanya tersebut lebih serius. Dari sini, dia sudah mulai fokus untuk berbisnis, dan harus mengembalikan pinjaman. "Kalau sekarang sih sudah lunas itu pinjamannya, sudah enggak ada tanggungan," tegas Vidi sembari tersenyum."Dari pas saya kerja saya mendapat ilmu, karena yang awalnya saya enggak tahu proses di bank gimana, produksinya gimana, cara marketingnya gimana, dari saya bekerja, di situ saya tahu, jadi banyak ilmu juga," ucap pria 34 tahun itu."Jadi dari situ, saya mulai, 'Kalau misalnya saya gini terus', maksudnya enggak berkembang. Jika enggak mantap melangkah lah ya kasarnya, nah enggak akan ke mana-mana," sambung bapak satu anak merasa jika dirinya tidak serius dalam menjalankan bisnisnya, maka sangat besar risiko terburuk yang akan menimpanya. "Dari situ akhirnya malah jadi terpacu, karena memang ada tanggungan itu, saya jadi kayak 'Wah ini harus dibalikin nih, kalau ada apa-apa, orang tua saya sekeluarga kegusur'. Jadinya sebenarnya dari situ saya terpacu," itu, mengenai segmen dari desain produk-produk Maternal, Vidi bercerita jika pada awalnya menyasar remaja-remaja usia SMA dan kuliah. "Anak-anak SMA, yang kuliah yang suka musik atau film horor. Tapi pada akhirnya produk mencari pasarnya sendiri ya, jadi yang enggak suka dengan film atau musik itu pun pasti tidak akan suka," kali pertama hadir dengan produk-produk yang terbatas, kini Maternal Disaster bisa memproduksi jaket, topi, sweater dan semua aksesoris hingga 120 artikel. "Kita Maternal dalam setahun ada 6 issue, dalam dua bulan ada satu issue. Dan satu issue-nya itu ada sekitar 120 artikel," kata Vidi."Untuk produk, semua ada. Bola basket ada, sarung tinju ada, celana dalam ada, kacamata ada, sepatu ada, sandal ada, kaos kaki ada, segalanya ada," hanya sekadar iseng belaka saat mengawali usahanya, kini bisnis yang dijalani Vidi sudah mampu mempekerjakan puluhan karyawan dan memiliki omzet ratusan juta rupiah tiap bulannya. Di samping itu, Vidi bersama Maternal Disaster sudah membuka lima toko. Selain Bandung, store Matternal juga bisa ditemui di Bali, Jogja, Malang, dan Medan."Kebanyakan karyawan dari teman. Jadi mereka juga belajar, misalnya di kita ada bagian produksi atau marketing, dia enggak tahu marketing itu apa, jadi mereka belajar di situ," kata Vidi.nug Lantasbagaimana asal muasal lambang kota ini sehingga selalu dikaitkan dengan Surabaya? saya mencatat Lambang yang resmi tertempel di kop surat pemkot Surabaya ini ditetapkan oleh DPRS Kota Besar Surabaya dengan Putusan no 34/DPRDS tanggal 19 Juni 1955, ini diamini Presiden Sukarno dalam Keputusan Presiden RI No 193 tahun 1956 pada 14